Syukur adalah Sifat Para Nabi
Senantiasa bersyukur dan berterima kasih kepada Allah atas limpahan nikmat-Nya, meskipun cobaan datang dan rintangan menghadang — itulah sifat para Nabi dan Rasul Allah yang mulia.
Syukur bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi sikap hati yang penuh pengakuan atas karunia Allah, serta diwujudkan dalam ketaatan.
Allah Ta’ala berfirman tentang Nabi Nuh:
“(Yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya Nuh adalah hamba yang banyak bersyukur.”
(QS. Al-Isra: 3)
Nabi Nuh berdakwah ratusan tahun dalam ujian dan penolakan. Namun Allah memuji beliau sebagai hamba yang banyak bersyukur. Inilah teladan bagi kita: syukur tidak hilang meski ujian berat datang.
Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam: Teladan dalam Ketaatan dan Syukur
Allah Ta’ala juga menggambarkan sifat Nabi Ibrahim:
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan, patuh kepada Allah dan hanif, dan bukan termasuk orang-orang musyrik. Dan ia senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.”
(QS. An-Nahl: 120–121)
Nabi Ibrahim bukan hanya patuh, tetapi juga senantiasa mensyukuri nikmat Allah. Syukur menjadi bagian dari kemuliaan akhlaknya.
Nabi Muhammad ï·º: Puncak Teladan dalam Syukur
Beliau adalah sayyidul anbiya, pemimpin para nabi dan rasul, Nabi akhir zaman, Muhammad ï·º. Meskipun telah dijamin surga, beliau tidak pernah meninggalkan syukur.
Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan:
“Rasulullah ï·º apabila shalat, beliau berdiri sangat lama hingga kaki beliau bengkak dan mengeras kulitnya.”
‘Aisyah bertanya,
“Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan ini, padahal dosa-dosamu telah diampuni, baik yang telah lalu maupun yang akan datang?”
Rasulullah ï·º bersabda:
“Wahai ‘Aisyah, bukankah pantas aku menjadi hamba yang bersyukur?”
(HR. Bukhari no. 1130, Muslim no. 2820)
Inilah makna syukur yang sesungguhnya: bukan hanya ucapan, tetapi penghambaan dan ibadah yang sungguh-sungguh.
Syukur adalah Ibadah
Allah Ta’ala berfirman:
“Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian ingkar.”
(QS. Al-Baqarah: 152)
Bersyukur berarti menjalankan perintah Allah.
Sebaliknya, enggan bersyukur dan mengingkari nikmat-Nya adalah bentuk pembangkangan.
Syukur menghadirkan ketenangan.
Syukur menambah nikmat.
Syukur mengangkat derajat.
Penutup
Mari belajar dari para Nabi:
Tetap bersyukur dalam kelapangan maupun kesempitan.
Tetap taat dalam kemudahan maupun kesulitan.
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur. 🤲

