Suatu ketika, seorang laki-laki yang berbeda pandangan dengan Gus Dur meluapkan kekesalannya. Ia mengeluarkan kecaman dan kata-kata kasar penuh kebencian.
Gus Dur hanya diam. Beliau mendengarkan dengan sabar, tetap tenang, dan tidak membalas sepatah kata pun.
Setelah lelaki itu pergi, seorang murid yang menyaksikan peristiwa tersebut merasa heran. Dengan penuh rasa penasaran ia bertanya,
“Mengapa Gus Dur hanya diam dan tidak membalas makian lelaki itu?”
Beberapa saat kemudian, Gus Dur justru balik bertanya,
“Jika seseorang memberimu sesuatu, tetapi kamu tidak mau menerimanya, lalu menjadi milik siapakah pemberian itu?”
Murid itu menjawab,
“Tentu saja tetap menjadi milik si pemberi.”
Gus Dur pun tersenyum dan berkata,
“Begitu pula dengan kata-kata kasar itu. Karena aku tidak mau menerimanya, maka kata-kata itu kembali menjadi miliknya. Ia harus menyimpannya sendiri.”
Beliau melanjutkan, bahwa orang tersebut mungkin tidak menyadari, kelak ia harus menanggung akibat dari energi negatif yang berasal dari pikiran, perasaan, perkataan, dan perbuatannya—baik di dunia maupun di akhirat.
Ludah yang Kembali ke Wajah Sendiri
Gus Dur kemudian memberikan perumpamaan yang sederhana namun sangat dalam maknanya:
“Sama seperti orang yang ingin mengotori langit dengan meludahinya. Ludah itu hanya akan jatuh dan mengotori wajahnya sendiri.”
Begitulah ketika ada orang marah atau mencaci kita. Sesungguhnya mereka sedang membuang “sampah hati” — sampah berupa amarah, kebencian, dan kekecewaan.
Jika kita diam, sampah itu akan kembali kepada mereka.
Namun jika kita menanggapi, berarti kita ikut menerima sampah tersebut.
Menjadi Pribadi yang Bijak
Di zaman sekarang, banyak orang hidup dengan membawa beban di hatinya:
sampah amarah, sampah kebencian, sampah kekecewaan, dan berbagai penyakit hati lainnya.
Karena itu, Gus Dur mengajak kita untuk menjadi pribadi yang bijak melalui nasihat sederhana namun penuh makna:
-
Jika engkau tak mampu memberi, janganlah mengambil
-
Jika engkau sulit mengasihi, janganlah membenci
-
Jika engkau tak dapat menghibur, janganlah membuat sedih
-
Jika engkau tak bisa memuji, janganlah menghujat
-
Jika engkau tak mampu menghargai, janganlah menghina
-
Jika engkau tidak ingin bersahabat, janganlah bermusuhan
Pelajaran untuk Kita Semua
Kisah ini mengajarkan bahwa kedewasaan bukan terletak pada kemampuan membalas, melainkan pada kemampuan mengendalikan diri.
Diam bukan berarti lemah.
Diam bisa menjadi bentuk kebijaksanaan.
Mari jadikan setiap hari sebagai ruang belajar, ruang untuk mawas diri, dan ruang untuk membersihkan hati dari segala “sampah” yang tidak perlu.
Semoga kita mampu meneladani kebijaksanaan ini dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga bermanfaat. 🙏

